My Flash Fiction

Upacara Pemakaman
by girindrabudi, Sept 28th, 2010

Setelah beberapa malam tenggelam dalam kisah-kisah yang dia tuangkan dalam kata-kata, kini dia tertidur lelap. Keesokan harinya para tokoh yang dia tulis dalam cerita itu muncul bersama dalam upacara pemakaman dirinya.

Romeo and Juliet
By girindrabudi, on August 31st, 2010

Begitu mendapat undangan perkawinanmu, ku akui hatiku patah sangat parah. Menjelang hari bahagiamu berbagai rencana aku siapkan, rencana menggagalkan perkawinanmu. Ada lima belas rencana telah aku siapkan. Dari lima belas rencana tadi, terdapat satu yang paling aku suka, memporak porandakan tempat pesta perkawinanmu. Aku akan merakit sebuah bom bunuh diri. Akan aku lilitkan bom rakitan tadi ke tubuhku. Dua buah handphone siap menjadi pemicu. Sebuah di dalam saku, sebuah lagi menempel pada bom itu. Tit tit tit … BOOM! Dirimu, pengantin pria, dan diriku sendiri adalah target utama dari misi itu. Namun bila ada korban lain yang tewas dalam peristiwa pengeboman nanti, itu resiko.

27 Juni 2010. Aku lingkari tanggal itu dengan spidol berwarna merah. Tidak lupa aku tandai pula icon 🙂 di samping lingkaran itu. Waktu yang biasanya berjalan sangat cepat, menjadi sangat lambat. Bom rakitanku telah siap. Jas yang akan aku kenakan di pesta pernikahanmu pun sudah rapi dan wangi. Setiap malam aku membayangkan wajahmu yang cantik tidak akan pernah ada lagi di bumi. Tersenyum aku membayangkan wajah pengantin priamu gagal menikmati malam pertama bersamamu. Apa yang akan terjadi dengan diriku, sama sekali tak ku hiraukan. Pasti sangat seru membayangkan kejadian pasca meledaknya bom di pesta perkawinan itu. Semua stasiun televisi akan menyampaikan laporan pandangan mata secara langsung dari tempat kejadian. Serpihan kaca, kursi-kursi yang terpental, hidangan makanan dan minuman tumpah ruah akan ditayangkan langsung oleh berbagai stasiun televisi. Bagaimana tubuh-tubuh kita berserakan, tidak perlu aku ceritakan. Penonton televisi sudah terlalu biasa menyaksikan.

Hari yang maha penting itupun tiba. Tepat jam 09.00 WIB, aku bubuhkan tanda tangan pada buku tamu yang dijaga oleh gadis-gadis cantik. Seperti biasanya, tawa canda dan senyum-senyum ceria makin membuat indah pesta.

Dari kejauhan aku lihat dirimu bersanding dengan mempelai pria yang pagi itu nampak begitu gagah. Aku melangkah pelan ke tempat pelaminan. Kau melempar senyum manismu padaku. Langkahku begitu pasti. Tepat satu langkah lagi tangan kita akan berjabatan. Tangan kiriku mengenggam erat handphone di saku.

Semua aku lakukan sesuai rencana. Persis seperti pesanmu saat memberikan handphonemu kepadaku.
“Telpon aku saat kita berjabat tangan. Kita akan buktikan cinta kita tak terkalahkan”

Taman Baru
By girindrabudi, on August 31st, 2010

Ada taman baru di ujung desa. Indah dan baru! Berita itu tersebar dengan cepat. Warga desa Sumberwangi mulai penasaran. Pun termasuk Samijan, orang yang dikenal paling cuek di desa itu. Pagi, siang, dan malam mereka tidak berhenti membicarakan keelokan, kenyamanan, dan kedahsyatan taman itu. Keceriaan selalu ada di sana. Siapapun yang berada di dalam taman itu akan menjadi riang bukan kepalang! Itulah kalimat yang paling menggoda pikiran warga untuk berkunjung ke taman.

Tadi siang Juminem, istri Samijan nyerocos di tengah kerumunan, “Kalian harus mencoba masuk ke taman itu. Hati dan pikiran menjadi riang. Aku mau tinggal disana!”

“Benar apa yang dia bilang. Dua hari lalu aku ke taman itu. Sembari duduk di bangku taman, tanganku memetik buah-buahan. Setelah itu aku tertawa seharian sambil berbaring, berguling-guling di rerumputan!” Darman menimpali penuh semangat.

“Ah, dasar otak keracunan!” sahut Samijan ngeloyor pergi.
Kabar gembira menyebar dengan cepat laksana kilat. Seluruh warga desa mulai terkesima, terpesona cerita kedamaian taman di ujung desa. Setiap sore warga desa berduyun-duyun berjalan menuju taman. Sesampai di taman, keriangan melanda seperti wabah. Senyum tersungging di setiap wajah. Senja berganti malam masih banyak orang di taman. Mereka enggan untuk pulang.

Sawah terbengkelai. Rumput liar meninggi, tak hanya sebatas mata kaki. Kandang ternak bergumul dengan semak belukar. Banyak anak menjadi gelandangan. Anak kecil berperut buncit, rambut kumal, kulit kotor menghiasi jalan-jalan desa Sumberwangi. Desa yang dulu indah permai dan menjadi pujaan hati itu kini nampak begitu lelah, menunggu mati.

Ketenaran taman di ujung desa makin membahana. Banyak warga berusia remaja dan dewasa secara sukarela menetap di sana. Kemolekan desa Sumberwangi seolah berpindah. Kerindangan daun hijau lebat, hamparan rumput basah di pagi hari, celoteh burung yang dulu dimiliki desa Sumberwangi telah tercuri. Kini, di taman itu semua orang penuh senyum, tertawa riang gembira.

Siang itu terlihat Samijan berdiri terpaku di luar taman. Ia pandangi istri, paman, dan adiknya sedang duduk di bangku taman. Tiga tahun berlalu, mereka masih menetap di situ. Samijan membalikkan badan dan beranjak pergi. Dari kejauhan masih jelas terbaca “PUSAT REHABILITASI PENYANDANG SAKIT JIWA” terpampang di depan pintu masuk taman. Samijan meneruskan langkah, menapaki jalan tanah kering menuju desa.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s