“Nak, kau adalah lelaki …
kau akan hadapi lautan hidup penuh gelombang
yakinlah, kau akan tercekam dahsyatnya gemuruh badai,
terombang ambing hempasan angin,
menggigil tercengkeram dingin menembus dasar tulang,
hingga wajah maut begitu dekat denganmu,
nak, semua itu dapat kau kalahkan,
semuanya dapat tergantikan …
menjadi alunan belaian tangan ku dan ibumu,
sapuan angin lembut serta nyanyian doa dari bibir ibumu,
warna rona pelangi yang mengajakmu bermain … permainan kesukaanmu,
hamparan rumput hijau dan luas sebagai alas tidurmu …
jemputlah kebenaran …
talikan kuat pada tiang layarmu,
bentangkan untuk melawan badai itu,
genggam kuat hingga sang maut tersenyum penuh kedamaian padamu
Ialah sinar matahari yang selalu memberi tanpa kau pinta,
Ialah setetes embun yang membasahi daun dan kemudian binasa dengan bahagia
Ialah awan yang menjadi hujan menyiram bumi dan hilang setelah sempurna
Ialah IA …”
yogyakarta 2006