May you never steal, lie, or cheat, but if you must steal, then steal away my sorrows, and if you must lie, lie with me all the nights of my life, and if you must cheat, then please cheat death because I couldn’t live a day without you. #Leap Year’s quote#
Untuk D
dengan jiwa berbalut rindu
mengembara tanpa tepi tanpa penjuru
memintal gumpalan rindu resah
mencarimu dalam palung-palung gundah
dengan jiwa meregang cinta
kutapaki jejak kenangan seribu bayangan
meneriakkan namamu kepada ilalang
menjala senyummu di gurun gersang
kau, jogja, dan hujan
ada gundah menganga dalam balutan sudut-sudut jalanan
terpungut lagi serpih-serpih pelangi di antara deru sepi
keciap rintik air menampar gelora perkasa yang tak jua tiba
aku hanyut lagi dalam buaian tetes rinai hujan …
tergulung … terseret arus kenangan tak bertepi
jogjakarta, 22 – 09 – 2010
her words
I’m sure that I will give all of my heart to him but I’m also sure that I won’t be able to see the sunset without thinking of you.
Puisi tak kunjung rampung
Sekali lagi batinku kelu …
Terpasung melintang di awang-awang
Berjuta tanya berkelebat
tak satupun jawab tertangkap
Wahai Mahligai Penguasa semesta jagad raya
Lenyapkanlah debu ini
Yang senantiasa terombang ambing sepi
Tertelungkup berjuta mimpi
Tersudut di dasar palung jagat
Segores cinta kini menganga
Tak terbalut sejuta kata
Sebongkah maut rindu kujemput
Bersama luka yang kian tertawa
Wahai dunia yang hina dina
Telah kau renggut sehelai asa
Bersama cawan yang selalu menganga
Merindu anggur buah cinta kita
Pergilah engkau wahai pujangga
Selipkan salam untuk Tuhan semesta
Seperti juga biasanya
Dunia ini sepi seperti kau sangka
jogjakarta 2007
suatu sore di jogjakarta
biar aku peluk tubuhmu di jalan yang biasa kita lewati …
ada dua burung gereja mengintip kita … “lihat mereka selalu jatuh cinta” …
kelak merekapun akan terbang selalu seperti kita … dan kembali ke sarang menjemput mimpi bersama anak-anak buah cintanya …
kemarin aku tengok api tungku dipojok dapur kita mulai redup …
apakah memang begitu nyala api nya? aku bertanya
sekarang kita tahu sayangku … memang begitulah api selalu menyala … ada angin yang kadang menerpanya …
namun jangan pernah biarkan tungku yang ada di dalam dadamu dan dadaku meredup … mari kita hangatkan dengan asa dan cinta yang selalu membara dalam nafas kita …
Dad’s words
“Nak, kau adalah lelaki …
kau akan hadapi lautan hidup penuh gelombang
yakinlah, kau akan tercekam dahsyatnya gemuruh badai,
terombang ambing hempasan angin,
menggigil tercengkeram dingin menembus dasar tulang,
hingga wajah maut begitu dekat denganmu,
nak, semua itu dapat kau kalahkan,
semuanya dapat tergantikan …
menjadi alunan belaian tangan ku dan ibumu,
sapuan angin lembut serta nyanyian doa dari bibir ibumu,
warna rona pelangi yang mengajakmu bermain … permainan kesukaanmu,
hamparan rumput hijau dan luas sebagai alas tidurmu …
jemputlah kebenaran …
talikan kuat pada tiang layarmu,
bentangkan untuk melawan badai itu,
genggam kuat hingga sang maut tersenyum penuh kedamaian padamu
Ialah sinar matahari yang selalu memberi tanpa kau pinta,
Ialah setetes embun yang membasahi daun dan kemudian binasa dengan bahagia
Ialah awan yang menjadi hujan menyiram bumi dan hilang setelah sempurna
Ialah IA …”
yogyakarta 2006
… duhai gadis kecilku
Larilah duhai gadis kecilku
injaklah rumput hijau itu dengan kaki-kaki mungilmu
kejarlah kupu-kupu yang mengajakmu bermain sedari tadi
sentuhlah sayapnya dengan jari-jari lembutmu
Larilah duhai gadis kecilku
tak usah kau risau lebatnya ilalang
tetaplah bermain sepuas hatimu
yakinlah jika kau terjatuh suatu kali
akan ada empat tangan menggapaimu
tanganku dan tangan lembut ibumu
Larilah duhai gadis kecilku
telah kami buatkan selendang untukmu
untuk teman tidurmu nanti
di saat kau penat … akan ada dua jiwa yang membasuh
jiwaku dan jiwa tenang ibumu
Larilah duhai gadis kecilku
binarkan dua matamu selalu
lambaikan indah rambutmu
karena dengan begitu, akan kau temukan …
kasihku dan kasih ibumu …
dalam dirimu
yogyakarta 16 Agustus 2006 …18.05 wib
Kau yang disana
memandang awan jauh, segerombolan domba putih masih ada di sana, dataran hijau luas terbentang tiada hingga, anganku mengaduh membuncah ruah, masih juga terdengar sendau gurau gemricik air, jiwaku hanyut larut dalam damai pesona tatapan dua mata dengan danau tenang didalamnya, senyum putih bergelayut lembut membelai jiwa kelembutan cinta, tergubah moksa, melambai pelan menggenggam ruang tak berbatas, Kau yang selalu ada dalam ada dan tiada menyiram palung kerinduan tak bertepi, dengan asa menghujat raga, dengan makna membalut luka, dengan kayuh menambat hati rinduku kian tak terperi
yogyakarta 16 Agustus 2006
Merenda angin
termangu aku mengetuk rindu
pada desah angin serapah
terhampar lautan asa berpudar
setitik buih kian merepih
terjerat pekat mimpi tertambat
lunglai langkah terpasung resah